PEMERHATI.COM – Jumlah hotel di Pekanbaru saat ini sudah melebihi kapasitas. Bagaimana tidak, sepanjang tahun 2016 silam, delapan hotel berbintang dibangun di tanah ibu kota Provinsi Riau ini.

Bahkan, Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Riau, Ondi Sukmara mengungkapkan jumlah hotel di Pekanbaru sudah over capacity.

“Jumlah hotel di Pekanbaru saat ini melebihi 100 bangunan. Kalau diklasifikasikan, kira-kira, untuk hotel bintang tiga ke bawah sebanyak 75 dan bintang tiga ke atas sebanyak 75,” ungkapnya.

Ironisnya, dengan jumlah hotel yang sangat banyak ini, dari penelusuran TribunPekanbaru.com, hanya ada dua hotel yang melakukan transformasi organisasi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Dua hotel tersebut adalah  Whiz Hotel Sudirman Pekanbaru dan Golden Tulip Essential Hotel Pekanbaru

Perkembangan teknologi yang dimaksud adalah layanan reservasi atau pemesanan hotel berbasis aplikasi. Meskipun travel agent, seperti Traveloka, Trivago, Agoda dan aplikasi sejenis lainnya menawarkan hal yang sama, akan tetapi dalam proses penerapannya tentu akan lebih luas dan menguntungkan jika setiap hotel memiliki aplikasi sendiri.

Whiz Hotel Sudirman Pekanbaru memiliki aplikasi yang diberi nama Whiz Mate dan dapat diunduh melalui Google Playstore. Melalui aplikasi ini, para tamu bisa melakukan reservasi tanpa harus mendatangi bagian front office.

Menariknya, bagi tamu yang melakukan reservasi melalui aplikasi ini akan diberikan poin. Dimana poin-poin ini jika dikumpulkan sesuai dengan ketentuan yang ada, maka akan diberikan pelbagai bonus, semacam menginap gratis.

“Tidak hanya itu, harga menginap yang kita tawarkan melalui aplikasi  ini merupakan harga promo. Yakni, mendapatkan potongan diskon mulai dari 5 hingga 10 persen dari harga kamar yang dipublikasikan,” terang Sales Manager Whiz Hotel Sudirman Pekanbaru, Stanley R Bendah.

Para tamu juga akan semakin dimanjakan. Sebab, melalui aplikasi ini para tamu bisa melakukan reservasi di seluruh jaringan hotel yang ada di bawah bendera Inti Whiz Hospitality Management.

Stanley mengaku sejak dikenalkan kepada masyarakat Pekanbaru pada Januari lalu, aplikasi ini mampu mendongkrak tingkat okupansi hotel yang resmi beroperasi di Pekanbaru pada awal Desember 2016 silam.

“Kira-kira setiap bulannya ada puluhan tamu yang menginap dengan pemesanan lewat aplikasi ini,” tuturnya, Rabu (10/5).

Menurutnya, hal ini terjadi karena promo yang diberikan melalui aplikasi Whiz Mate cukup membantu para tamu yang hendak menginap. “Dan pastinya,melalui aplikasi ini kita akan selalu mengabarkan promo atau program terbaru,” pungkasnya.

Sementara itu, Golden Tulip Essential Hotel Pekanbaru juga memiliki aplikasi yang diberi nama Louvre Hotels. Marketing Communication Golden Tulip Essential Hotel Pekanbaru, Rere Panjaitan menjelaskan melalui aplikasi ini tamu juga bisa melakukan reservasi.

“Dengan aplikasi ini harga kamar yang kita tawarkan memang mendapatkan potongan atau berbeda dengan harga yang kita publikasikan kepada masyarakat luas,” ungkapnya. Sejak resmi beroperasi pada awal 2017 lalu, kata Rere setiap bulan ada tamu yang melakukan reservasi lewat aplikasi ini.

“Sepertinya karena promo yang kita tawarkan melalui aplikasi ini cukup menarik perhatian para tamu. Sehingga mereka memutuskan untuk melakukan reservasi via aplikasi,” sebutnya.

Jika Whiz Hotel Sudirman dan Golden Tulip Essential Hotel sudah memiliki aplikasi pemesanan online, tidak demikian halnya Grand Elite Hotel Pekanbaru  yang sudah beroperasi sejak tahun 2010 dan berlokasi di Jalan Riau.

“Untuk pemesanan, para tamu bisa melakukannya dengan mengunjungi website resmi kita dan mengirimkan email untuk menginap,” kata Director Of Sales Grand Elite Hotel Pekanbaru, Henni Rasmonowati.

Henni menjelaskan setiap bulan kontribusi untuk pemesanan melalui travel agent online (OTA) berkisar 10 persen.

“Selebihnya masih dengan cara konvensional, yakni mendatangi langsung bagian front office kita,” tuntasnya.

Berangkat dari minimnya pemanfaatan digital yang dilakukan oleh hotel-hotel tersebut, berbagai persoalan pun muncul ke permukaan. Di antaranya, jumlah hotel yang terlalu banyak tentunya akan menimbulkan persaingan yang cukup ketat ke depannya.

Selain mempertimbangkan faktor harga, kenyamanan dan penawaran lainnya, pelanggan tentu akan lebih memilih reservasi hotel yang lebih mudah dan cepat. Terutama lewat aplikasi digital yang bisa dilakukan di mana saja.

Hal ini akan menimbulkan persaingan yang sengit. Hotel yang telah menerapkan aplikasi modern tersebut akan lebih diuntungkan.

Pada dasarnya persaingan antar hotel telah dimulai sejak lama. Tiap hotel berlomba-lomba menyuguhkan keunggulan harga serta berbagai macam penawaran yang tergantung dengan layanan dan kenyamanan yang diberikan.

Fenomena tersebut sangat kentara di tahun di 2016 lalu. General Manager Grand Jatra hotel Pekanbaru, Bregas Yekti kepada TribunPekanbaru.com menyampaikan pandangannya mengenai bisnis perhotelan di Pekanbaru sepanjang 2016.

Menurutnya persaingan bisnis perhotelan di Pekanbaru semakin menggeliat, terbukti dari jumlah hotel yang terus bertambah di tahun 2016 silam.

“Oleh karenanya, dapat dikatakan secara revenue biasa saja tidak jauh berbeda dengan tahun 2015, dikarenakan pertumbuhan hotel yang semakin banyak,” ucapnya.

Di satu sisi hotel terus membuat program yang memanjakan pelanggan dengan berbagai program layanan serta promo. Namun di sisi lain juga harus menghadapi peningkatan biaya operasional seperti UMP, biaya listrik dan gas yang terus naik.

“Intinya di tahun 2016, kita jadinya harus mengikat pinggang, dalam artian mengurangi pengeluaran seperti biaya promosi dan berhemat dalam penggunaan energi,” cetusnya.

Biaya operasional pun menjadi suatu persoalan di tengah-tengah jumlah hotel yang terus meningkat.

Hal senada juga disampaikan General Manager Grand Elite Hotel Pekanbaru, Lusiyanti. Dia berpendapat agar pemerintah menimbang secara bijak dalam mengeluarkan izin operasional hotel.

Menurutnya, pertumbuhan jumlah hotel di Pekanbaru sepanjang 2016 sudah melewati batas atau over supply.

“Artinya tidak sebanding antara demand dengan supply,” sebutnya.

Meski demikian, ia menghimbau agar pemerintah juga bisa menyeimbangkan kondisi tersebut dengan lebih menggalakkan pariwisata di Riau.

“Dengan begitu, laju perekonomian pun tumbuh dan tingkat okupansi hotel-hotel juga meningkat,” sebutnya.

Membahas sektor pariwisata, Pemerintah Provinsi Riau pada 2017 ini memang tengah gencar mempromosikan tempat-tempat wisata yang ada. Pembangunan infrastruktur pun terus digesa.

Pada saat acara pembukaan gelaran Riau Travel Mart (RTM) yang ditaja oleh Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (SPPI) Riau, Kamis (4/5), Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman melalui Asisten III Setdaprov, Kasiarudin memaparkan di tahun 2016 sebanyak 56 ribu wisatawan luar negeri mengunjungi Provinsi Riau. “Sementara wisatawan dalam negeri itu sebanyak 5,2 juta orang,” urainya.

Dirinya menjelaskan khusus Pekanbaru pertumbuhan hotel sangat tinggi. “Kalau biasanya pada hari Sabtu dan Minggu Pekanbaru sangat sepi karena rata-rata masyarakat kita memilih untuk berlibur ke provinsi tetangga, tetapi sekarang ini ramai sekali, bahkan masyarakat dari kabupaten kota lainnya ke Pekanbaru,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, ia mengharapkan ikut serta pengelola perhotelan atau ASSPI untuk ikut membantu pemerintah daerah dalam membangun serta mempromosikan wisata Riau.

Dilain pihak, Ketua Asita (Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies)  Asnawi Bahar mengatakan gelombang kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ditargetkan berjumlah 15 juta pada tahun ini.

“Intinya kami ini jalan sambil mempersiapkan. Persoalan di Manado lebih karena kunjungan wisman China tidak diikuti dengan penyediaaan akomodasi yang memadai akibatnya pelayanan kepada mereka tidak maksimal,” ucapnya seperti yang dilansir oleh Bisnis, Senin, 8 Mei 2017.

Sejumlah daerah misalnya Provinsi Bangka Belitung, Kepulauan Riau (Kepri), dan Sumatra Barat, dinilainya bakal menjadi destinasi yang dibidik oleh banyak agen perjalanan.

Segmentasi tidak hanya didominasi oleh China, tetapi juga wisatawan muslim khususnya dari Timur Tengah.

Kebutuhan wisman akan hotel berbintang cukup tinggi karena rata-rata wisman China dan Timur Tengah lebih menyukai tinggal di hotel berbintang. “Wisman China suka harga murah tapi ingin tinggal di hotel berbintang, sedangkan wisman Timur Tengah dan lainnya berani mengeluarkan uang untuk menginap di hotel berbintang,” tekannya..

Oleh sebab itu, transformasi organisasi di tubuh perhotelan harus segera dilaksanakan. Yakni dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Pemimpin Bisnis di Indonesia Belum Peka Terhadap Digitalisasi

Membahas perkembangan dunia digital, Microsoft Indonesia telah melakukan studi bertajuk The Microsoft Asia Digital Transformation pada Oktober – November 2016 dengan melibatkan 1.494 pemimpin bisnis di 13 negara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Studi ini menghasilkan kesimpulan sebanyak 90% pemimpin bisnis di Indonesia menyatakan perlu melakukan transformasi digital untuk mendorong pertumbuhan perusahaan.

Namun, sayangnya, hanya 27% yang telah memiliki strategi transformasi digital menyeluruh. Sebanyak 51% sisanya masih merencanakan proses transformasi digital dan sebanyak 22% belum memiliki strategi apapun.

Andreas Diantoro, President Director, Microsoft Indonesia menjelaskan melalui situs resmi Microsoft , Organisasi yang tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman akan menjadi kurang kompetitif.

“Oleh sebab itu, Microsoft mendorong setiap organisasi untuk segera melakukan transformasi digital di era berbasis teknologi ini agar mampu beradaptasi dengan perubahan, baik perubahan internal maupun eksternal,” sambungnya.

Berdasarkan hasil studi itu juga, Microsoft menemukan empat pilar yang harus dilakukan oleh perusahaan. Antara lain;

1.  Memprioritaskan pelanggan, Teknologi memungkinkan organisasi untuk menganalisis dan memahami karakter konsumen dengan lebih baik, sehingga organisasi dapat memprediksi kebutuhan konsumen dan menjawab kebutuhan tersebut secara personal.

2.  Memberdayakan karyawan, Dalam rangka menjawab kebutuhan konsumen secara lebih personal, karyawan organisasi perlu bekerja dengan lebih cepat. Teknologi pun hadir untuk mendukung karyawan dalam melakukan pekerjaan secara mobile, sehingga karyawan dapat bekerja dari mana saja, kapan saja, dan dengan menggunakan perangkat apa saja. Walaupun karyawan tidak bekerja di tempat dan waktu yang sama, karyawan dapat tetap bekerja secara kolaboratif.

3. Mengoptimalkan kegiatan operasional, Hadirnya teknologi mampu membantu proses pengumpulan, pengolahan, dan analisis data, sehingga dapat mempercepat proses pengambilan keputusan. Sebagai hasilnya, efektivitas dan efisiensi kerja organisasi akan semakin meningkat.

4. Transformasi produk dan model bisnis. Dalam rangka menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi kosumen, organisasi perlu mendefinisikan ulang jenis produk dan model bisnis yang ditawarkan agar berbeda dari kompetitor lainnya. Pengintegrasian teknologi ke dalam produk dan model bisnis organisasi akan menghadirkan wajah baru bagi organisasi dan semakin mendekatkan organisasi dengan kebutuhan konsumen di era digital.

Generasi Milenal Bakal Kuasai Pasar

Seiring dengan pemanfaatan dunia digital, manajemen hotel harus membaca perilaku pasar yang pastinya akan berbeda setiap tahun nya. Munculnya istilah generasi x, generasi y dan generasi milenial harus diwaspadai. Sebab, mereka inilah yang nantinya akan menguasai pasar. Adapun saat ini, yang ramai diperbincangkan dunia internasional ialah Generasi Milenial.

Bank investasi global, Goldman Sachs memaparkan generasi milenial merupakan masyarakat yang lahir dari tahun 1980 hingga 2000. Yang saat ini diyakini mendominasi pasar.

Menurut hasil riset yang dilakukan di Amerika Serikat, angkatan milenial ini berjumlah 92 juta jiwa, jauh di atas jumlah generasi X (yang lahir antara tahun 1965 hingga 1979) yang hanya berjumlah 61 juta.

Dari riset tersebut, perusahaan ini juga menyimpulkan 7 sifat generasi milineal seperti dikutip melalui Liputan6.com, (6/1/2017).

Pertama, dibanding generasi sebelumnya, bagi generasi milenial, harga jauh lebih penting ketimbang kualitas. Mereka cenderung tertarik pada produk berharga murah. Kedua, walaupun terbilang muda, generasi milenial memimpikan bisa membeli rumah suatu hari nanti, tapi mereka tidak berencana melakukannya dalam waktu dekat. Menurut survei Goldman Sachs, 30% dari generasi milenial sudah cukup puas tinggal di rumah orang tua.

Ketiga, Generasi milenial tertarik dengan gaya hidup sehat, olahraga dan mengonsumsi makanan sehat. Semakin banyak kaum muda yang memilih hidup sehat dan menjauhi kebiasaan buruk seperti merokok, dan minum minuman beralkohol.

Keempat, lebih dari separuh generasi milenial di Amerika Serikat mengatakan tidak berminat untuk membeli televisi. Mereka lebih senang menikmati tontonan televisi dari gadget seperti laptop, tablet ataupun gadget lain yang terkoneksi internet.

Kelima, jika generasi milenial ingin menghabiskan uang untuk belanja, mereka lebih senang membelanjakan barang mahal untuk barang fashion kebutuhan olahraga, seperti baju ataupun sepatu olahraga.

Keenam, Generasi milenial mau menggunakan mobil hanya ketika mereka memerlukannya. Makanya, mereka rela menyewa mobil, ketimbang harus membelinya sendiri. Itulah kenapa mereka menggemari jasa transportasi online seperti Uber dan transportasi online lainnya, sebagai pilihan utama.

Terakhir, generasi ini sangat menggantungkan hidupnya pada media sosial, untuk kebutuhan sehari-hari. Dari mulai mencari tempat makan, menyapa teman, mencari kerja, hingga hal-hal seperti produk apa yang ingin dibeli.

Di Indonesia, generasi milineal dikenal sangat ramah dengan kemajuan teknologi, khususnya Internet. Hal ini terungkap dari survei terakhir yang dilakukan Asosiasi penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada Oktober 2016 seperti yang diberitakan Tirto.id.

Survei itu menunjukkan 80 persen atau sekitar 25 juta pengguna internet Indonesia adalah mereka yang berusia 25-29 tahun dan sekitar 72 persen pengguna berusia 30-34 tahun.

Dari sisi pekerjaan, pengguna internet yang dominan di Indonesia adalah para karyawan swasta sekitar 88 persen dan mahasiswa 89 persen.

Sementara dari sisi jenis layanan internet yang digunakan, ada 92,8 juta (69,9 persen) pengguna internet Indonesia menggunakan internet mobil. Sisanya menggunakan layanan internet rumah, fasilitas kantor dan internet kantor.

Perlu diketahui bahwa pengguna internet di Indonesia haus akan informasi terbaru. Dari survei itu diketahui 31,3 juta pengguna menjadikan update informasi sebagai alasan utama mengakses internet. Angka tersebut melebihi jumlah pengguna yang mengakses internet karena alasan pekerjaan (27,6 juta) dan sekadar mengisi waktu luang (17,9 juta).

Namun mereka cenderung pasif dalam memperoleh informasi. Hal ini diketahui dari perilaku jenis konten internet yang diakses didominasi media sosial yakni sebanyak 97,4 persen. Hal ini sejalan dengan media sosial yang sering dikunjungi yakni Facebook dengan angka mencapai 54 persen atau sekitar 71,6 juta pengguna.

Dengan demikian, dapat disimpulkan, perilaku generasi milenial harus segera dicermati oleh perhotelan di Pekanbaru. Sebab, generasi ini lah yang saat ini mendominasi pasar. Disamping itu, generasi ini memiliki karakter yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Tentunya, setiap program atau kebijakan yang akan diambil sebaiknya selaras serta mampu menjawab kebutuhan generasi milenial ini.

Terakhir, perhotelan harus mampu melakukan innovasi produk dan tranformasi organisasi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, dalam hal ini internet. Apalagi, saat sekarang ini, media informasi digital tak bisa lepas dari kebutuhan sehari-hari. Sejatinya, internet bukan lagi menjadi sesuatu hal yang luar biasa, melainkan suatu kebutuhan bagi masyarakat. (*)

*Berita di atas hasil karya admin pemerhati yang terbit di tribunpekanbaru.com. Tulisan ini berhasil memenangi Kompetisi Lomba Penulisan Artikel Manajemen Populer 2017 yang diselenggarakan PPM Manajemen.