‘i see human but not humanity’ Jason Donohue

PEMERHATI.COMBeberapa hari yang lalu, rasa asih manusia terhadap alam yang semakin berkurang kembali diperlihatkan. Alam dan lingkungan yang seharusnya dijaga oleh manusia karena diberi akal patut dipertanyakan.

Peristiwa tewasnya seekor Paus Sperma di perairan Desa Kapota, Kecamatan Wangiwangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, pada hari Senin (19/11/2018) lalu menyentak perasaan siapapun (itupun kalau ada rasa).

Bagaimana tidak, di dalam perut bangkai Paus itu ditemukan sampah plastik sekitar 5,9 kilogram.

Paus yang memiliki panjang 9,5 meter ini menjadi pemberitaan di media nasional dan internasional.

Penemuan bangkai ini ditemukan oleh warga sekitar yang mencium bau tidak enak dan menyengat.

Saleh Hanan, dari Yayasan Wakatobi mengutip Kompas.com mengatakan, kemungkinan paus tersebut mati beberapa hari yang lalu.

“Beratnya tidak terukur, melihat kondisi yang hancur kira-kira sudah dua minggu paus itu mati,” ungkap Saleh Hanan dihubungi, Senin.

Saleh, juga menemukan banyak sampah plastik di dalam perut bangkai paus tersebut.

“Dalam perut paus ditemukan botol, penutup galon, sandal, botol parfum, bungkus mi instan, gelas minuman, tali rafia, karung terpal, kantong kresek, dan lain-lain,” terangnya.

Menyoal penyebab pasti kematian Paus ini memang belum bisa disimpulkan. Para aktivitis tengah melakukan penelitian.

Namun demikian, Pemerhati.com beropini 80 persen dapat dikatakan Paus ini meninggal karena sampah plastik tadi. Sebab, plastik merupakan salah satu jenis sampah yang paling sulit terurai dan membutuhkan waktu yang lama.

Berbagai penelitian menyimpulkan agar alam bisa menguraikan atau menghancurkan sampah anorganik diperlukan waktu yang lama.

Coba lihat data di bawah ini:

plastik diperlukan waktu 50 – 100 tahun untuk terurai.

puntung rokok 10 tahun.

kaleng soft drink (alumunium) 80 – 100 tahun. 

Oleh karena itu, penting untuk manusia, sebagai unsur yang memiliki kedudukan tertinggi dalam ekosistem ini untuk segera sadar akan lingkungan.

Saleh Hanan, aktivis dari Yayasan Lestari Alam Wakatobi, menduga, penyebab kematian paus itu karena sampah plastik.

“Sangat bisa karena sampah. Sampah plastik, kan, tidak terurai di perut paus dan beracun. Pencernaan terganggu, lalu mati,” kata Saleh, dihubungi, Selasa (20/11/2018).

Saleh juga menjelaskan, paus itu kehilangan orientasi navigasi dan menyebabkan mamalia raksasa tersebut makan sampah plastik.

Saleh pernah melihat ada sabuk sampah membelah Laut Banda dari Timur Laut Sultra sampai tenggara Kepulauan Sula pada bulan tertentu.

“Karna kehilangan orientasi navigasi, paus tak mampu bedakan makanan dan non-makanan,” terang dia.

Sementara itu, bangkai Paus telah dikubur pada Selasa, (20/11/2018) lalu. Tulangnya dijadikan specimen di Akademi Komunitas Perikanan dan Kelautan Wakatobi.

Ayo Kurangi Sampah-mu!

Bagi masyarakat Indonesia, penggunaan plastik memang menjadi kebutuhan sehari-hari. Mulai dari kebutuhan belanja hingga keperluan sehari-hari lainnya.

Menurut Pemerhati.com, rata-rata setiap harinya, setiap warga Indonesia menggunakan plastik untuk kebutuhan.

Opini tersebut agaknya selaras dengan laporan Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) yang menyebutkan Indonesia Darurat Sampah Plastik.

“Indonesia sudah darurat sampah plastik. Indonesia berada di posisi nomor dua setelah Tiongkok sebagai negara penghasil sampah plastik yang dibuang ke laut. Sehingga dibutuhkan terobosan solusi yang mendorong perbaikan di sektor hulu, produsen,” kata Direktur ICEL, Henri di Jakarta seperti dikutip dari antaranews.com.

Menurut dia, Beat Plastic Pollution harus dimulai dengan menginisiasi kebijakan teknis yang mewajibkan produsen mengurangi sampah plastik.

“Pemerintah harus memulainya jika benar-benar serius soal ini. Sebab solusi penanganan di hilir dengan program-program 3R (reduce, reuse, recycle) tidak efektif, sementara volume sampah plastik setiap tahunnya terus meningkat,” kata Henri.

Jika Pemerintah sudah seharusnya mengambil kebijakan terhadap fenomena ini, setiap warga juga sudah sepatutnya sadar dan mulai mengurangi penggunaan plastik.

Memang untuk menghentikan penggunaan plastik secara instan itu sulit. Namun kita bisa memulainya dengan mulai mengurangi dan menggantikan fungsi plastik dengan cara lain.

Pemerhati.com saat ini tengah berupaya meminimalisir penggunaan plastik. Caranya mudah. Jika berbelanja di supermarket ataupun dimanapun, Pemerhati.com memilih menggunakan tas.

Setiap penjual ataupun kasir menawarkan plastik, ingatan Pemerhati.com terlempar jauh kepada kondisi Paus tadi. Lalu, menolak penggunaan plastik dengan memilih memasukkan barang belanjaan ke dalam tas.

Memang aksi ini belum menjadi rutinitas. Admin pun mengakui sesekali masih menggunakan kantong plastik.

Meski begitu, kesadaran itu mulai tumbuh. Barangkali keseriusan dan konsisten saja yang masih kurang.

Nah, kalau begitu, kapan kamu akan tersadar dan mulai mengurangi sampah plastik kamu?

Ingat, sebagai manusia yang diberkahi akal dan pikiran, sudah seharusnya kita yang bertanggungjawab terhadap segala bentuk kerusakan alam.

Salam Lestari  (*)

*berikut admin selipkan senandung tentang perlunya menjaga alam karya almarhum Gombloh.