Keterlibatan orang tua dapat memberi efek positif pada berbagai aspek pendidikan termasuk meningkatkan perilaku anak dan adaptasi sosial, mengurangi masalah kedisiplinan di sekolah, meningkatkan kesuksesan di sekolah, dan peningkatan kehadiran di sekolah (Kotaman dalam Gürbüztürk & Sad, 2010)

PEMERHATI.COM – Menyambut tahun ajaran baru 2018, SMA N 4 Pekanbaru di Jalan Adi Sucipto mengenalkan program Paguyuban Orangtua kepada para siswa baru.

Program yang telah berlangsung selama tiga tahun belakangan ini bertujuan untuk mengajak orangtua ikut serta membangun dan mengawasi jalannya pendidikan.

“Evaluasi program ini sangat bagus dan sangat luar biasa efeknya kepada kita pihak sekolah,”ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA N 4 Pekanbaru, Sondang.

Dia menyebut antusias orangtua terhadap program ini sangat tinggi setiap tahunnya. Oleh karena itu, pihaknya merasa perlu mengenalkan serta mensosialisasikan program Paguyuban Orangtua ini.

Sondang menceritakan paguyuban orangtua merupakan sebuah wadah bagi orangtua untuk ikut terlibat aktif dalam memantau perkembangan anaknya di sekolah.

“Sebelumnya wadah tersebut sudah ada, yakni rapat komite. Tapi kan pertemuan itu terbatas dan hanya diadakan setahun sekali. Disamping itu, yang mengikuti rapat ini juga jumlahnya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan. Jadi agak susah kalau mau diskusi dan pastinya akan membutuhkan waktu yang lama,”terangnya kepada tribunpekanbaru.com beberapa waktu lalu.

Melalui Paguyuban ini, kata Sondang, orangtua siswa bisa menyampaikan pendapat dan berkomunikasi dengan sekolah melalui wali kelas. Seperti masukan maupun keluhan yang dihadapi anaknya di sekolah.

Tidak hanya itu, pada saat rapat komite tahunan, pihaknya juga terbantu. Sebab, topik pembicaraan hanya akan membahas usulan yang dibawa oleh setiap Ketua Paguyuban.

“Sehingga rapat akan berjalan lebih efektif dan efisien,”ucapnya.

Sementara untuk bentuk program paguyuban ini, lanjut Dia, wali kelas akan mengajak seluruh orangtua di setiap kelas untuk memilih seorang Ketua Paguyuban.

“Setelah terbentuk, mereka bebas untuk membicarakan program apa yang mereka buat selama satu tahun kedepan. Seperti mengadakan pertemuan rutin untuk mengevaluasi para siswa dan lain sebagainya,”katanya.

Pada kesempatan ini, Sondang juga menjelaskan program lainnya, yaitu pelibatan masyarakat sekitar.

“Karena lokasi sekolah kita berada di kawasan TNI Angkatan Udara (Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru) kita juga beberapa kali mengadakan kegiatan bersama. Seperti kegiatan olahraga, latihan berbaris, pendidikan tentang angkatan udara dan lain sebagainya,”tandas Dia.

Manfaatkan Media Sosial

SMA N 4 Pekanbaru turut memanfaatkan aplikasi Whatsapp untuk memaksimalkan program paguyuban orangtua.

Dijelaskan Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA N 4 Pekanbaru, Sondang setiap kelas memiliki grup whatsapp yang beranggotakan wali kelas dan seluruh orangtua siswa.

Melalui grup ini, wali kelas bisa meneruskan informasi dari sekolah kapan saja. Selain itu, para orangtua juga bisa menanyakan keadaan anaknya di sekolah.

“Yang paling bermanfaat dari grup ini adalah proses komunikasi terbangun sangat baik. Tidak hanya itu antusias dari orangtua juga diluar prediksi kami. Bagaimana mereka semangat menanyakan keadaan anaknya, ikut memantau keadaan kelas, apakah sudah nyaman atau tidak. Bahkan, lewat komunikasi ini, para orangtua sepakat untuk ikut mendekor kelas agar anaknya bisa belajar dengan nyaman,”paparnya.

Dia juga menceritakan pernah ada paguyuban yang memprotes keadaan kelas yang kurang nyaman karena tidak adanya kipas angin. Lalu, secara swadaya seluruh anggota paguyuban itu sepakat untuk membeli kipas angin.

“Bahkan sampai ada 4 kipas angin di satu kelas. Nah, begitulah orangtua ingin anaknya supaya bisa belajar dengan nyaman,”tegasnya.

Sondang juga tidak menampik perdebatan juga kerap terjadi di grup whatsapp ini.

Namun pihaknya menganggap proses itu sebuah dinamika dan hal yang biasa selama wali kelas bisa memberikan penjelasan dengan baik dan benar.

“Dari fenomena ini sebenarnya kita bisa melihat bahwa para orangtua juga ingin dilibatkan di sekolah-sekolah. Mereka juga ingin berkontribusi lebih,”sambung Dia.

Meski demikian, Sondang mengakui program paguyuban orangtua ini belum merata diterapkan di seluruh satuan pendidikan.

“Barangkali di Pulau Jawa sudah, tapi kalau di Riau saya rasa belum semua sekolah menerapkan program ini. Jadi yah kita berharap juga kepada pemerintah untuk mengenalkan dan mensosialisasikan program ini lebih luas lagi,”singkatnya.

*Berita di atas hasil karya admin pemerhati yang terbit di tribunpekanbaru.com. Tulisan ini berhasil masuk nominasi dalam Apresiasi Jurnalis dan Blogger Pendidikan Keluarga 2018 Kemendikbud